(021) 857 0985/86/68

STT Jaffray Jakarta

Oemar Bakri (Sebuah refleksi antisipatif terhadap masa pensiun seorang Hamba Tuhan) Oleh: Brian Marpay, M.Th.

Pendahuluan

 Sebagai seorang anak gembala GKII yang notabene harus berpindah-pindah mengikuti tugas sang ayah, menjadikan penulis dapat mengenal serta mengetahui budaya dari suku lain. Dilahirkan di Ujung Pandang dalam masa pendidikan ayah, kemudian setelah menyelesaikan studinya di STT Jaffray Makassar, beliau ditempatkan di Bitung (Sulawesi Utara) selama 7 tahun. Kemudian pada tahun 1995 kami pindah ke kota Ambon untuk melayani jemaat Tuhan di sana. Tahun 2004 setelah kerusuhan Ambon mulai reda, kami pun dipindahkan kembali ke Bitung untuk melayani Tuhan di GKII Baitani Bitung. Pada tahun 2006, ayah pindah untuk yang kesekian kalinya di bagian paling Utara pulau Sulawesi, tepatnya di pulau Sanger untuk menggembalakan jemaat Tuhan di GKII jemaat Yerusalem Tahuna, sekaligus menjadi Ketua Daerah I Sanger Talaud (yang berbatasan langsung dengan Filipina).

Pada tanggal 12 September 2010, beliau meninggal dalam sebuah pelayanan Minggu pagi di pulau Batu Wingkung, saat akan memimpin Perjamuan Kudus. Kerinduan beliau untuk membangun sebuah rumah permanen bagi keluarga pupus sudah.  Pada tahun 2011 kami pun memutuskan kembali ke kota Ambon untuk menetap di sana hingga saat ini.

Ini hanyalah sepenggal kisah pengalaman dari seorang anak gembala jemaat, jika digambarkan dalam sebuah lagu, kisah ini akan mirip seperti lagu Iwan Fals yang berjudul Oemar Bakri.

Tentu semua kita mengenal musisi legend asal Indonesia ini. Jika disimak beberapa lagu hasil karyanya, kita akan menemukan bahwa Iwan Fals sedang mengkritik, menegur dan mengoreksi pemerintah sekaligus menggambarkan potret kehidupan sosial-budaya dari kaum marginal yang terabaikan di Indonesia. Lewat semua karyanya itu, banyak pecinta musik tanah air secara khusus kaum “akar rumput” sangat mengidolakannya, termasuk saya sendiri. Lagu Oemar Bakri sangat menyentuh hati saya, sekalipun nyanyian ini bukanlah nyanyian gereja. Berikut liriknya:

 

Tas hitam dari kulit buaya
Selamat pagi berkata bapak Oemar Bakri
Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali

Tas hitam dari kulit buaya
Mari kita pergi memberi pelajaran ilmu pasti
Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu

Laju sepeda kumbang dijalan berlubang
Selalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang
Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang
Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan?
“Berkelahi pak!” jawab murid seperti jagoan
Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang
Itu sepeda butut dikebut lalu cabut kalang kabut (Bakri kentut)
cepat pulang

Busyet… standing dan terbang

Oemar Bakri Oemar Bakri
Pegawai negeri
Oemar Bakri Oemar Bakri
Empat puluh tahun mengabdi
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri Oemar Bakri
Banyak ciptakan menteri
Oemar Bakri
Profesor dokter insinyurpun jadi
(Bikin otak orang seperti otak Habibie)
Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri
Seperti dikebiri

Bakri Bakri
Kasihan amat loe jadi orang
Gawat

 

Dari lirik lagu ini, kita dapat berefleksi sejenak tentang gambaran hidup seorang guru (PNS) yang mengabdi bagi nusa dan bangsa. Dengan loyalitasnya, Oemar Bakri memberi hidupnya hingga masa pensiun. Penggalan kata “empat puluh tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati”, memberi gambaran bahwa Oemar Bakri tidak setengah-setengah dalam melakoni panggilan hidupnya sebagai seorang guru. Pada akhir dari lagu ini, Iwan Fals memberikan sedikit sentuhan edukasi bahwa di luar sana ada banyak orang hebat yang dilahirkan dari tangan dingin seorang guru, namun jasa, kerja keras, maupun pengorbanannya tidak pernah dihargai. Lalu apa yang dapat dipelajari dari lagu karangan Iwan Fals ini?  Penulis menemukan ada beberapa prinsip yang tersirat dalam lagu ini, yang dapat dikorelasikan atau memiliki kesamaan dengan kehidupan hamba Tuhan di ladang pelayanan.

  1. Loyalitas

 Apa itu loyalitas? Menurut KBBI loyalitas diartikan sebagai kepatuhan atau kesetiaan. Loyalitas bukan sekedar semboyan, melainkan harus dihidupi oleh setiap hamba Tuhan tatkala ditempatkan dalam ladang pelayanan dengan berbagai kondisi, dimana sama sekali ia sendiri pun tidak mengetahui dengan pasti kultur serta budaya dari tempat tersebut, namun demi pelayanan pekerjaan Tuhan seorang hamba Tuhan menyanggupi visi yang Tuhan berikan baginya. Bahkan tak jarang dalam ladang pelayanan, ia harus bayar harga untuk jiwa-jiwa yang terhilang, ditambah lagi dengan jarak yang harus ditempuh bermil-mil jauhnya untuk mengunjungi setiap jemaat dengan berjalan kaki, naik motor, perahu, atau speed boad. Semua itu pastinya didedikasikan kepada Tuhan.

  1. Pengabdian

Apa itu Pengabdian? Menurut KBBI pengabdian dari kata dasar abdi, yakni orang bawahan, pelayan, hamba, budak tebusan, orang “dalem” (budaya Jawa) pegawai keraton, pegawai negara yang bekerja pada pemerintah atau pegawai negeri. Sedangkan mengabdi ialah menghamba, menghambakan diri atau berbakti. Selain loyalitas, pengabdian menjadi salah satu faktor keberhasilan seorang hamba Tuhan dalam pelayanan pastoral. Tanpa pengabdian, akan sulit melihat hasil kerja keras kita selama bertahun-tahun dalam pelayanan. Seorang hamba Tuhan dikatakan sukses serta berhasil dalam pelayanan, jika ia telah melayani Tuhan di atas 10 tahun (relatif, ada yang 5 tahun juga sudah cukup). Inilah yang kerap dijadikan indikator untuk mengukur keberhasilan seorang hamba Tuhan. Dalam pengabdiannya, ia juga dituntut patuh kepada atasan (dalam hal ini ketua wilayah, ketua daerah, atau gembala jemaat yang menugaskannya), tanpa harus berbantah-bantah terlebih dahulu baru mengerjakannya atau menanyakan salary yang didapatkan.

  1. Masa tua

Terkadang dalam pengabdiannya selama puluhan tahun, seorang hamba Tuhan jarang mendapat reward yang pantas, lebih sering diabaikan. Namun tidak dapat dipungkiri juga, bahwa kadangkala reward diberikan dalam bentuk pujian karena telah mengabdikan diri selama puluhan tahun. Inilah titik persoalan yang perlu diperhatikan oleh para hamba Tuhan muda yang akan, maupun yang telah mengabdikan dirinya dalam ladang pelayanan. Bukan berarti reward dalam bentuk pujian tidak dibutuhkan, akan tetapi lebih kepada tindakan real. Tak jarang banyak hamba Tuhan diakhir pelayanannya, bahkan sampai masa sensiun, ia tidak memiliki rumah tetap untuk ditempati pada masa tuanya. Simpanan berupa tabungan pribadi hampir-hampir tidak ada karena harus memenuhi kebutuhan hidup serta pendidikan anak. Memang ada pernyataan yang mengatakan “Layani Tuhan, maka semua akan ditambahkan kepadamu”, atau “Tidak usah memikirkan masalah duniawi, toh Tuhan pasti siapkan!” Apakah benar seperti itu? Sebagai generasi muda, penulis mau katakan, itu keliru! Seorang hamba Tuhan selain loyalitas dengan pelayanan yang diperkokoh dengan pengabdiannya, ia juga harus memperhatikan kesejahteraan keluarganya. Jika memang tidak bisa dipenuhi oleh lembaga yang mengutus, hendaknya hamba Tuhan mempraktekan prinsip entrepreneurship yang Alkitabiah. Tentu saja tidak boleh mengganggu tanggung jawab pokok selaku gembala jemaat. Namun yang menjadi masalahnya ialah, apabila sang gembala sedang sibuk-sibuknya dengan tugas dan tanggung jawab yang semakin berat dipikulnya kemudian dia harus memikirkan kesejahteraan keluarganya, ditambah lagi dengan usia yang semakin lanjut, sungguh ini sebuah perjuangan hidup yang patut dihargai.

Masih tepat apabila ia pensiun pada usia yang telah ditetapkan atau sesuai dengan AD/ART GKII, sehingga ia bisa mempersiapkannya, sekalipun hal tersebut sudah terlambat! Tapi bagaimana dengan hamba Tuhan/ gembala jemaat yang lagi giat-giat dalam ladang pelayanan dan kemudian meninggal (dipanggil Tuhan), bagaimana dengan nasib istri dan anaknya? Inilah pergumulan yang belum dapat dipecahkan.

Kesimpulan

Bagi hamba Tuhan yang terpanggil sebagai gembala jemaat, secara khusus generasi muda, perlu memikirkan serta merancang kesejahteraan rumah tangganya dalam pelayanan penggembalaan; sehingga saat ia memasuki masa pensiun, hal-hal seperti ini tidak menjadi beban bagi keluarga. Jangan tiba masa tiba akal! Tentunya ia tidak mengabaikan loyalitas dan pengabdiannya dalam ladang pelayanan yang Tuhan percayakan. Sangat memprihatinkan jika pengalaman Oemar Bakri dalam lirik lagu Iwan Fals dialami juga oleh hamba Tuhan, “empat puluh tahun mengabdi jadi guru jujur berbakti memang makan hati…gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri” alasannya karena tidak mendapat perhatian dan yang lebih penting lagi ialah tidak ada rencana dari jauh-jauh hari. Pada akhirnya selain hidup bergantung kepada Tuhan, ia juga harus mengikuti beberapa asuransi sebagai langkah antisipatif seperti YSKP – milik GKII, dan asuransi umum lainnya.

Kiranya refleksi ini bukan saja menjadi utopia untuk kesejahteraan para hamba Tuhan kedepannya, tetapi juga sebagai “PR” bagi petinggi GKII untuk mengejawantahkan kesejahteraan keluarga hamba Tuhan. Mengingat dalam lingkup GKII terdapat begitu banyak pengerja, antara lain jumlah Pendeta: 1.786 orang, jumlah Vikaris: 602 orang, jumlah Evangelis : 1.388 orang, dan jumlah Emiritus: 85 orang. Dengan pertimbangan jumlah Gereja GKII yang tersebar di seluruh Indonesia sebanyak 2.252, dimana jumlah jemaat mandiri sebanyak 1.722 dan jumlah Pos PI sebanyak 530. (sumber: data statistik didapatkan dari kantor pusat GKII, berdasarkan laporan dari Wilayah pada Rakernas I di Alor, NTT).