(021) 857 0985/86/68

STT Jaffray Jakarta

Cinta Segitiga (Rut 1-4), Oleh Brian Marpay

Pendahuluan

Sekilas membaca judul di atas, pasti anda akan bertanya-tanya “maksudnya apa sih?” dan tidak menutup kemungkinan pasti akan terjadi multi tafsir terhadap judul tersebut, sebab konotasi dari cinta segitiga bermakna negatif. Untuk memahami maksud dari judul di atas, ada baiknya anda membaca paper ini sampai selesai, yang pada giliriannya anda akan dimampukan oleh Tuhan untuk memahami maksud dari judul ini secara komprehensif, dengan demikian anda pun dapat menerapkan kemanfaatan dari tulisan ini dalam kehidupanmu sehari-hari serta berelasi dengan lawan jenis, secara khusus dalam hal memilih teman hidup.

Definisi kata Cinta

Siapa sih yang tidak pernah mengalami cinta, tentunya setiap manusia pernah mengalami serta merasakan cinta baik secara general maupun dalam lingkup yang lebih pribadi. Penggunaan kata cinta telah ada sejak lama, dan sampai saat ini kata cinta masih relevan digunakan untuk mewakili hati seseorang dalam menggungkapkan rasa yang terpendam bahkan rasa yang telah terbangun antara dua insan yang saling jatuh cinta. Namun apa sebenarnya cinta itu?

Secara etimologi, cinta menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna sebuah perasaan “suka sekali, sayang benar, kasih sekali, terpikat (antara laki-laki dan perempuan), ingin sekali, berharap sekali, rindu, susah hati (khawatir), dan risau. Sedangkan menurut Vine’s Complete Expository Dictionary of Old and New Testament Word, cinta menggunakan kata אָהַב – ahab (dalam bahasa Ibrani) – basically this verb is equivalent to the English “to love” in the sense of having a strong emotional attachment to and desire either to possess or to be in the presence of the object (pada dasarnya kata kerja ini setara dengan bahasa Inggris “to love” dalam arti memiliki ikatan emosional yang kuat dan keinginan untuk memiliki atau berada di hadapan objek).

Dengan demikian jika disimpulkan, cinta ialah sebuah perasaan suka/ sayang dan rindu sekali terhadap lawan jenis yang dalam hal ini, terjalinnya ikatan emosional yang kuat terhadap lawan jenis yang disukainya dengan sebuah harapan ingin memiliki objek tersebut sebagai sasaran dari perasaan cintanya.

Hubungan baik dengan “si doi” (Pasal 2:11)

  • Cinta itu TIDAK BUTA…!!!

Ada istilah klasik yang sudah lama kita dengar, “cinta itu buta” apakah benar demikian? Realitanya cinta itu buta saat seseorang telah mabuk asmara atau dengan kata lain ia sedang jatuh hati terhadap seseorang yang ia kagumi dan sayangi. Tapi bagaimana jika cinta itu tidak buta? Tentunya akan kontras dengan konsep sebelumnya. Perbedaan dan penekanan kata ini, sebenarnya terdapat pada kesadaran seseorang saat sedang dilanda cinta, hanya saja orang tersebut tidak sampai melakukan hal-hal yang ekstream dan lebih bersikap tenang serta memilih untuk menggunakan akal sehat. Pada gilirannya, jika dikorelasikan dengan konteks bacaan Alkitab (Rut 1-4), kita akan menemukan bahwa Boas tidak sedang diliputi atau diselimuti “cinta buta”, sebaliknya ia jatuh cinta namun tidak membuatnya buta terhadap situasi disekitarnya.

  • Boas memahami dengan jelas serta utuh informasi tentang Rut (ayat 11) – bandingkan dengan (Rut 1:16-17).

Untuk memilih teman hidup atau pasangan hidup yang akan menemani kita nantinya, tentunya kita akan lebih selektif untuk memilih dan menetapkan siapa yang akan menjadi pasangan kita dan pastinya jauh dari pemahaman “beli kucing dalam karung”, tentunya anda sudah memahami maksud penulis bukan. Demikian juga saat anda baca bagian Firman Tuhan ini, anda akan menemukan Boas sebagai pria yang takut akan Tuhan, dimana ia memilih pasangannya atau teman hidupnya tidak asal-asalan bahkan tidak seperti konsep “beli kucing dalam karung”. Realitanya, Boas mengamati dengan cermat, utuh dan tentunya informasi yang dia dapatkan sehubungan dengan pasangannya tersebut secara komprehensif dan tidak “beli kucing dalam karung”.

Pada pasal 2:4-17, kita akan menemukan bahwa narasi ini sebenarnya sedang menjelaskan sebuah fase atau tahap perkenalan/saling mengenal antara Boas dengan Rut (walaupun konsep pacaran tidak anda temukan dalam Alkitab – lihat dan bandingkan Yusuf & Maria pada Perjanjian Baru, konsep “tunangan”). Kemudian pada ayat 9, 14-16 kita akan menemukan di sana, adanya bentuk perhatian khusus (PDKT yang terbangun) dari Boas selaku pengelola ladang (orang kaya raya – ayat 2) terhadap Rut orang Moab itu.

Adanya Afirmasi dari orang terdekat (Pasal 3:1-5)

Untuk membangun hubungan ke tahap yang lebih serius dengan lawan jenis yang diharapkan dapat berakhir di pernikahan, tentunya kita perlu mendapatkan afirmasi dari orang-orang disekitar kita. Dengan pertimbangan, supaya kita dimantapkan untuk mengambil keputusan, bahwa “dialah teman hidup” saya. Untuk mendapatkan afirmasi atau penegasan yang pada gilirannya meneguhkan kita untuk memilih dan kemudian melangkah, hanya bisa kita dapatkan dari orang-orang terdekat kita. Sebagai contoh orangtua, hamba Tuhan, orangtua rohani atau kakak rohani, mentor, dan sahabat karib.

Dalam konteks ini, Naomi merupakan afirmator atau orang yang memberikan peneguhan serta penegasan terhadap Rut untuk tidak takut mengambil Boas menjadi pasangannya (ayat 1-5). Dalam hal ini Naomi bukan saja memberikan afirmasi bagi Rut untuk menerima Boas, akan tetapi tersirat rekomendasi yang kuat bagi anak mantunya tersebut untuk membuka diri, mengenali dan menerima Boas yang juga merupakan sanak keluarga dari suami Naomi yaitu Elimelekh.

Di sisi lain, kita juga akan menemukan dukungan dan afirmasi dari tua-tua Israel yang hadir dan menjadi saksi (Pasal 4:9). Kaum yang “wajib menebus” (pasal 3:12, pasal 2:20). Menurut Hukum Musa, Boas sebagai keluarga dekat dari Naomi (istri dari Elimelekh) wajib menebus mereka, (bandingkan Imamat 25:25-28, 47-49 ; Ulangan 25:5-10 tentang konsep “penebus – kerabat”). Namun ternyata ada kerabat/keluarga yang lebih dekat lagi (Pasal 3:12 ; Pasal 4:1,3,6,8) tetapi orang ini tidak mau mengambil tanggung jawab tersebut, sehingga Boas menggambil peran dan tanggung jawab tersebut. Boas menjadi Penebus dalam dua hal: 1.) Dia menikahi Rut dan memelihara nama Elimelekh, almarhum suami Naomi – adanya kelangsungan generasi dari Elimelekh. Putra Rut dan Boas yang pertama dianggap sebagai keturunan Elimelekh. 2.) Boas menebus (yaitu membeli) tanah keluarga yang telah dijual Naomi dan mengembalikannya kepada keturunan Elimelekh (3,7-10).

Kalimat singkapkanlah selimut dari kakinya dan berbaringlah (Pasal 3:4). Ayat ini jangan dipandang sebagai sesuatu yang negatif, sebaliknya harus dipandang dari aspek budaya “adat kebiasaan kala itu”. Hal ini dilakukan secara sopan, dan tanpa maksud seksual. Konteks ini sebenarnya menjelaskan bahwa, Boas sengaja tinggal di tempat pengirikan untuk menjaga hasil panennya ketika malam hari. Di sisi lain, tindakan ini ditunjukan Rut bagi Boas dengan tujuan agar Boas menikahi Rut selaku keluarga almarhum suaminya (yaitu sebagai penebus – kerabat).

Jika anda ingin diberkati dalam menjalani/membangun Pernikahan, jangan abaikan masukan atau nasihat orangtuamu! Apalagi memaksakan kehendakmu supaya terlaksana! 
Orang terdekat anda, yang dalam hal ini orangtuamu memiliki peran yang cukup penting untuk meng’iakan atau sebaliknya menolak hubungan anda. Ingat orangtua adalah wakil Allah di bumi, dengar nasihat mereka dan lakukan. Jika dikorelasikan dengan konsep sungkeman dalam budaya suku Jawa, sujud sebagai tanda bakti dan hormat atau dengan kata lain adanya konsep doa dan restu dari orangtua kepada anaknya.

Tuhan Merestui Hubungan tersebut (Pasal 4:13)

Restu datangnya dari orang yang mempunyai peran penting dalam sebuah hubungan, yakni orangtua kita. Di sisi lain, ada otoritas yang lebih besar dari peran orangtua, yakni Tuhan. Pada ayat 13, kalimat: “atas karunia Tuhan” –  וַיִּתֵּ֙ן יְהוָ֥ה(nayyiten YHWH) – to give LORD, menjelaskan/ menggambarkan persetujuan Tuhan atas hubungan tersebut. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) untuk Ruth 4:13, “Maka Boas pun mengambil Rut menjadi istrinya. TUHAN memberkati Rut sehingga ia hamil lalu melahirkan seorang anak laki-laki”. Ini menjelaskan adanya restu dari otoritas tertinggi, dalam hal ini Tuhan yang telah melegalkan hubungan tersebut.

Hasil dari ketaatan Rut dalam konteks ini, ialah bahwa ia hidup benar di hadapan Tuhan dalam membangun/ membina hubungan dengan Boas yakni, Rut masuk hitungan dari garis keturunan Daud – Yusuf – Yesus. Rut menjadi tokoh yang dihormati dalam agama Yahudi sebagai orang yang terhisap masuk atau dengan kata lain Rut masuk ke dalam silsilah Daud. Rut juga dianggap nenek moyang Mesias – Yahudi, yaitu sebagai nenek buyut Daud, raja Israel. Karena Yesus Kristus lahir dari Maria, istri Yusuf yang berasal dari keturunan Daud. Sedangkan bagi agama Kristen, Rut adalah nenek moyang Yesus sang Mesias (Matius 1:5-6).

Konklusi

Sejak Boas PDKT hingga dipersatukan dalam ikatan pernikahan, mereka telah mendapat afirmasi dan restu dari orangtua maupun Tuhan atas hubungan tersebut.  Hal ini dapat dilihat seperti diagram di bawah ini, bahwa cinta/ kasih segitiga yang terbangun antara Rut – Boas – Tuhan atau Rut & Boas – yang berelasi terhadap sesama (Naomi selaku orangtua) – Tuhan.

Jadi dari uraian di atas, cinta segitiga bukan menjelaskan adanya orang ke tiga yang masuk, merongrong serta merusak sebuah hubungan. Akan tetapi lebih kepada relasi yang jelas yang terbangun antara pasangan yang saling mencintai, yang jika diibaratkan dengan segitiga maka terdiri atas tiga sisi bangun yang saling berhubungan antara satu titik ke titik lainnya. Dengan demikian cinta segitiga jika disimpulkan dari perspektif Rut 1-4, maka kita akan menemukan sebuah konsep teologis yang di dalamnya tersirat muatan afirmasi, baik dari orangtua maupun Tuhan. Pada akhirnya jika disederhanakan lagi, maka kita akan menemukan hubungan horisontal dengan sesama maupun hubungan vertikal dengan Tuhan, yakni melibatkan Tuhan dalam sebuah hubungan.