(021) 857 0985/86/68

STT Jaffray Jakarta

Akhir Dari Kegalauan (Nats: Nehemia 1-2), Oleh Brian Marpay

Pendahuluan

Aku bermimpi dimana pada suatu hari nanti keempat anakku akan tinggal di sebuah negara bagian, yang tidak menilai seseorang berdasarkan warna kulitnya, tetapi berdasarkan karakter” (Marthin Luther King Jr). Siang itu, 28 Agustus 1963, seorang aktivis dan pendeta membakar semangat 250.000 orang yang berkumpul di depan Lincoln Memorial. “I have a dream”, demikian pidato paling berpengaruh dalam sejarah Amerika Serikat. Dalam pidatonya, King berbicara mengenai pengagguran, masalah rasial, serta keadilan sosial. Dengan suara menggetarkan, Luther King Jr. menyerukan hak-hak sipil, kesetaraan antara kulit putih dan hitam, serta kebijakan yang mendukung segregasi berdasarkan ras. “I have a dream”, inilah pidato yang monumental hingga hari ini.

Dari kisah ini, Penulis melihat bahwa Marthin Luther King Jr memiliki beban, semangat serta visi yang besar bagi orang-orang kulit hitam perantauan, baik yang lahir maupun yang besar di Amerika Serikat. Dialah tokoh atau pejuang HAM yang menentang rasisme di Amerika bahkan pengaruhnya mengglobal.

Dalam Kitab Nehemia, yakni pasal 1-2, kita akan melihat dan menjumpai peran Nehemia dalam merajut persatuan dan kesatuan, atau dengan kata lain melalui narasi ini; kita akan melihat kedaulatan Tuhan atas hidup Nehemia. Yang sebelumnya ia mengalami kegalauan setelah melihat Yerusalem luluh lantak, namun diubah Tuhan menjadi sukacita dan hal ini dapat dilihat dari perspektif berbangsa dan bernegara, dimana Nehemia mengambil tindakan kuratif bagi Israel yakni adanya sikap merajut persatuan dan kesatuan bangsanya.

Definisi kata Kegalauan

            Secara etimologi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “kegalauan” merupakan kata sifat, yakni “keadaan/hal” yang menyebabkan galau. Sedangkan kata “galau” merupakan kata dasar yang diartikan sebagai “kacau tidak karuan (pikiran)”. Dengan demikian jika disimpulkan, kegalauan ialah sebuah keadaan, hal atau kondisi dimana seseorang mengalami pikiran, perasaan atau keadaan kacau yang membuatnya tidak karuan.

Kegalauan Besar (Pasal 1:3-4).

            Nehemia merasakan kegalauan yang besar, perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Nehemia sangat bersedih, pada ayat 4, Nehemia menangis, berkabung, berpuasa serta berdoa. Apa yang melatar belakangi sehingga Nehemia sangat bersedih dan galau? Rupanya orang-orang yang tinggal didaerah sana, yang terhindar dari penawanan ada dalam kesukaran besar dan dalam keadaan tercela. Dimana tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar dan inilah penyebab dasar, mengapa Nehemia mengalami kegalauan besar!

            Bahasa Ibrani untuk kata “menangis” pada ayat 4 ini, menggunakan kata we evkhe וָֽאֶבְכֶּ֔ה   – to weep, to lament yang berarti meratapi dan kata “berkabung” menggunakan kata we et abla  וָאֶתְאַבְּלָ֖ה  dari kata dasar אבַל – to mourn yang berarti berduka dan sedih (hitpael, imperfec). Jadi Nehemia selama beberapa hari, secara terus menerus atau berulang-ulang dia berduka, sedih, dan meratapi saudara-saudaranya yang terhindar dari penawanan dimana tembok Yerusalem telah terbongkar. Inilah alasan utama mengapa Nehemia mengalami kegalauan.

Adanya beban, untuk membangun (Pasal 2:3-5, 12).

            Visi menurut Dr. Yakob Tomatala dalam bukunya Anda Juga Bisa Menjadi Pemimpin Visioner, mengatakan demikian, “visi adalah sebuah kemampuan untuk melihat keinginan suci yang ditulis oleh Sang Pencipta di dalam batin (guna menjawab kebutuhan) yang berkaitan erat dengan pemenuhan hidup”.

            Jika kita menyimak pernyataan pada ayat 5, “supaya aku membangunnya kembali” dalam bahasa Ibraninya menggunakan kata  וְאֶבְנֶֽנָּה “we evnena” – to build dari kata dasar בנה “bana”, yang berarti mendirikan kembali, membangun. Di sisi lain, terjemahan NIV (New International Version) untuk kata “membangunnya kembali” mengunakan kata fortify yang berarti membentengi dan work on yang berarti mengerjakan. Jika dikonfirmasi ke ayat 12, rupanya beban untuk membangun ini bersumber atau datangnya dari Tuhan. Perhatikan kalimat, “rencana yang diberikan Tuhan Allahku dalam hatiku”, pernyataan ini mengindikasikan bahwa Tuhan memberikan visi bagi Nehemia, visi untuk membangun kembali tembok Yerusalem.

            Jika dikorelasikan dengan pernyataan Dr. Yakob Tomatala, maka Nehemia diberikan kemampuan untuk melihat keinginan suci yang ditulis oleh Sang Pencipta dalam batin Nehemia, untuk membangun Yerusalem, yang juga linear dengan mimpi dari Marthin Luther King Jr, pada bagian awal. Kemudian kalau dikonfirmasi lagi ke ayat 17 b, “mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela”. Kata cela dalam bahasa Ibrani menggunakan kata חֶרְפָּֽה “her’pa” – a reproach (feminine) yang menjelaskan tentang cemooh, aib atau sebuah celaan. Kalimat “Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbang telah terbakar”, menjelaskan atau menggambarkan sebuah celaan, cemooh, aib besar bagi atau terhadap bangsa Israel dan atau kerajaan Selatan yakni Yehuda yang menjadikan mereka tidak berdaya/lemah (feminine) dan rupanya ini menyangkut identitas atau harga diri mereka. Dengan demikian, jika kita menarik benang merahnya, maka kita akan menemukan visi besar Nehemia yang dibebankan dari Allah kepadanya untuk membangun kembali Yerusalem.

Mulai bertindak, action (Pasal 2:7-9, 13).

            Beban atau visi itu tidak akan terealisasi jika tidak ada action atau tindakan. Apa saja yang diperbuat oleh Nehemia? Rupanya Nehemia membangun relasi atau jejaring dengan bupati-bupati (dalam bertindak, membangun relasi sangatlah penting). Di sisi lain, jika kita mengamati ayat 13-16, untuk kalimat “menyelidiki dengan seksama”, rupanya Nehemia sedang mengadakan observasi lapangan, atau dengan kata lain ia mengumpulkan data-data, yakni mengadakan observasi secara mendalam, perihal merekonstruksi kembali Yerusalem yang telah menjadi reruntuhan.

            John F. Kennedy (mantan Presiden Amerika Serikat) pernah berkata demikian, “jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu? Dengan demikian jika dikorelasikan, secara tidak langsung pernyataan John F. Kennedy ini meneguhkan apa yang pernah dialami oleh Nehemia ribuan tahun lalu. Apa yang dapat Nehemia berikan bagi Yerusalem pasca penawanan di Babel dan pasca Yerusalem telah menjadi reruntuhan? Salah satunya ialah membangun kembali tembok Yerusalem yang telah terbongkar, pintu-pintu gerbang yang telah terbakar.

Kesimpulan:

            Nehemia telah mengambil bagian untuk merajut persatuan dan kesatuan bangsa, secara khusus kaum keluarganya dan secara umum kerajaan Selatan/ kerajaan Yehuda kala itu. Kegalauan Nehemia dan bangsa Israel membuahkan sukacita besar, baik terhadap Nehemia secara pribadi maupun bangsa Israel secara umum. Demikian juga dengan kita, apa yang dapat kita berikan bagi negara ini, tatkala melihat gejolak politik yang fluktuatif di Indonesia saat ini? Apakah anda mulai galau tatkala melihat gejolak yang terjadi atas bangsa ini? Apakah anda galau melihat para pemimpin yang korup di sana-sini? Apakah anda galau melihat para pemimpin bangsa yang tidak lagi menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagaimana mestinya?  Galau boleh-boleh saja, sebaliknya sikap seorang anak Tuhan dalam meresponi situasi disekitarnya haruslah berbeda. Mulailah dari sekarang bertindak untuk merealisasikan Persatuan dan Kesatuan bagi bangsa ini, dimulai dengan hal-hal kecil yang memberikan dampak besar bagi kedamaian bangsa dan negara kita, Indonesia.